Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Desember 09, 2010

Surabaya, 09 Desember 2010

Ada air mata yang kembali menetes
Di malam terkelam dalam hidupku
Ada rindu yang begitu menusuk
Rasa sakit yang begitu menyiksa

Harus dengan cara apa lagi aku mengatakannya
Berkata bahwa aku sungguh mencintaimu
Menyayangimu
Merindukanmu
Tersiksa karenamu

Aku sakit di sini

November 30, 2010

HILANG

Tersenyumlah saat kau mengingat aku

Karena saat itu aku sangat merindukanmu

Dan menangislah saat kau merindukanku

Karena saat itu aku tak berada di sampingmu


Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu

Karena saat itu aku 'kan terasa ada di dekatmu

Karena ku telah berada di hatimu untuk selamanya


Tak ada yang tersisa lagi untukku

Selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu


Mata indah yang dengannya ku biasa melihat keindahan cinta

Mata indah yang dahulu adalah milikku


Kini semuanya terasa jauh meninggalkanku

Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu


Hati, cinta, dan rinduku adalah milikmu

Cintamu takkan pernah membebaskanku

Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain

Saat sayap-sayap cintaku patah karenamu

Cintamu akan tetap tinggal bersamaku

Hingga akhir hayatku dan setelah kematian

Hingga tangan Tuhan akan menyatukan kita lagi


Betapa pun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan yang tengah menghidupkan sinar redupku

Namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya


Ku takkan pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu


Karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku


Kau tak akan pernah terganti,

bagai pecahan logam,

mengekalkan kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku



Kini ku telah kehilanganmu

November 12, 2010

BUDAYA INDONESIA, ANTARA FEODALISME DAN WESTERNISASI

Hei, kalian yang sedang duduk di sana…
Iya, kalian…
Kalian semua yang masih bisa mendengar suaraku…
Kalian semua yang mengaku pemuda Indonesia…
Yang selama ini selalu meneriakkan “Sumpah Mahasiswa Indonesia” dengan bangga…

Aku ingin bertanya…
Pernahkah kalian berpikir sedikit saja tentang hakikat bangsa ini…
Tentang budaya bangsa ini…
Tentang apa yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa kita…

Tahukah kamu…
Masih ada setan besar yang meng hantui bangsa kita…
Setan yang menghisap darah rakyat kita…
Memasung kemerdekaan rakyat kita…
Membunuh bangsa kita perlahan-lahan…

Setan sisa feodal, kekolotan…
Yang memasung kebebasan demokrasi…
Ini era demokrasi...
Semua punya hak berpendapat…
Karena wanita dan bahkan anak-anak juga punya suara…
Mereka berhak berbicara…
Tapi mengapa di sudut sana, sudut sana…
Suara mereka masih terbungkam…
Dengan kata ‘budaya’….

Apakah kau juga melihat apa yang terjadi di sudut sana…
Dua orang anak muda, menggoyangkan badan…
Diiringi musik yang memekakkan telinga…
Di sudut lain, seorang anak muda menenggak segelas Vodka, terkadang Jack Daniel,
kali lain Vodka, sering juga Martini…
Mereka semua larut dalam ruangan dengan asap rokok membumbung di atas kepala-kepala mereka yang tergerogoti budaya barat…
Cobalah lihat di banyak tempat…
Perhatika pakaian mereka, gaya mereka berbicara, life style mereka…
Dengan bangga mereka bilang, “Ini gaul!”
Tapi mereka tak tergerak untuk menampakkan identitas bangsa mereka…

Budaya bangsa kita yang sesungguhnya indah…
Dan mengundang decak kagum bangsa lain…
Hingga mereka iri dan mencurinya…
Kian tergerogoti dengan sisa feodal yang masih mengakar dengan kuat…
Ditambah lagi westernisasi yang terus menyerang pemuda negeri ini…

Kalian semua…
Tolonglah…
Jadilah pioneer untuk memulihkan budaya bangsa kita…
Karena bangsa kita, terjepit antara sisa feodal dan westernisasi…

THE MOON AND THE STAR

Bintang itu tetap bersinar malam ini
Cantik dan anggun seperti biasa kami berjumpa
Dari jauh aku menggumam
"Engkau adalah bintang terindah"
"yang denganmu, bahkan kelamnya malam tak akan menggentarkanku"
"Aku ingin memandangimu lebih lama lagi"

Aku dengan suka cita bersimpuh
penuh dengan kedamaian memandangimu
tetap di sana hingga kau menghilang di balik awan
dan tak terlihat lagi
Aku sedih menyadari bahwa itu adalah perpisahan
Sang bulan lalu melihatku dan bertanya,
"Kenapa kau bersedih?"
Aku mengangkat wajahku dan melihat ke arahnya
"Bintang itu telah pergi"
"Aku tak akan bisa hidup tanpanya"
Sang Bulan lalu tersenyum,
"Kalau begitu, pulang dan datanglah esok kemari"
"Aku akan menyinari jalanmu agar kau tidak tersesat"

Maka aku terus dan terus datang untuk sekedar memandangmu
dari jauh tempatku bersimpuh
Tak peduli kata rerumputan bahwa aku hanya membuang waktuku
"Dia tak akan pernah turun ke bumi"
Begitulah kata mereka
"Bintang dan manusia tak seharusnya bersatu"
Aku membuang muka dan mengacuhkannya
dan lebih tertarik dengan bintang satu itu
Tak lama kau menghilang lagi, cepat dan dingin seperti biasa
"Tapi tak apa.."
Betapapun kau akhirnya meninggalkanku,
aku tetap bersyukur dengan pertemuan kita

Dengan ditemani sang Bulan dan sayup-sayup ocehan rerumputan
Malam itu aku bertanya,
"Bulan, akankah dia bersinar selamanya?"
Sang bulan tersenyum seperti yang selalu ia lakukan
"Tentu saja," jawabnya hangat
"Tapi...," aku masih saja diliputi kekhawatiran
"Dia telah menyinariku dan mengusir kesepianku"
"Tapi siapakah yang akan mengusir kesepiannya?"
Sang bulan tersenyum lagi
"Bintang-bintang kecil di sekitarnya yang akan menjaganya"
"dan menjadi temannya di kala ia merasa kesepian"
Aku mendongak memandangi bintang-bintang kecil itu
Terpana dan terpesona
"Aku senang ia akan terus hidup"
"Tapi aku selalu berharap bisa menjadi salah satu bintang kecilnya"
"yang akan menyinarinya dan mengusir kesepiannya.."
Kataku sedih

Ocehan rerumputan mulai berteriak memaki-maki
Memandang hina apa yang baru saja kuluapkan dan kupendam sejak lama
Sang bulan pun untuk pertama kalinya meredup
dan memucat
"Mari..," katanya bergetar, "kuantar kau pulang"
"Esok dia pasti datang lagi, jadi janganlah bersedih.."

Kakiku terasa lebih berat untuk melangkah
Bukan karena aku tak ingin pergi
tapi karena aku baru mengakui bahwa kita memang tak bisa bersatu
Aku hanya selalu memilih untuk tidak mempedulikannya
Betapapun giat rerumputan itu memperingatkanku
Aku ingin tetap berusaha membuatmu turun dari tahta penuh kesombonganmu itu
dan benar-benar turun ke bumi
sejenak melupakan kawan-kawan kecilmu di atas sana
dan berkata
"Terima kasih sudah menemaniku selama ini"
"Aku ingin kau menjadi bintang buatku, dan menyinariku"
Tapi kau tak pernah melakukannya
Dan aku dengan bodohnya terus memandangimu dan berharap
Karena itulah kakiku menjadi lebih berat untuk melangkah pergi
Memandangmu sekali lagi di balik awan gelap
yang mungkin sengaja kau kenakan..

Sejenak segalanya tampak lebih jelas dan pilu
Di saat aku memandang sang Bulan
yang entah bagaimana menyadari remuknya hati ini
dan ia tak bisa berbohong dari wajahnya yang turut bersedih..
Aku tahu, sampai kapanpun ia tak akan bosan menemaniku
Aku tahu, sampai kapanpun ia tak akan berhenti menyinariku

Oktober 20, 2010

Repost:
Dan kelak..
Disaat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu..
Dan kau tak tau jalan mana yg harus kau ambil,
jangan memilihnya dengan asal saja...
Tapi duduklah dan tunggulah sesaat..
Tariklah napas dalam" dengan penuh kepercayaan..
Seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini..
Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu..
Tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi..
Berdiamdirilah, tetap hening, dan dengarkan suara hatimu..
Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah..
Dan pergilah kemana hati membawamu..




*terima kasih karena telah begitu mengerti akna diriQ.. Dan maafkan aQ*

Oktober 03, 2010

Hakikat Cinta

Aku membuat jalan

antara tabir dan salam

suara bintang-bintang dan

talu bulan, mencair

dalam akar kediaman

harmonikaku yang gelisah melantunkan musik hujan

mengibasakan cinta di atas

batu yang dikhianati.....

rinduku yang rapuh meluncur

lagi dari sumbu

dan minyak kehidupan.









by Hablimul Tenri Gangka

September 21, 2010

BULAN DAN SERIGALA

Di suatu tempat..
Tinggallah seekor serigala yang selalu sendirian.
Di siang hari, sang serigala selalu dihajati mereka yang membencinya.
Karena itu, sang serigala lebih menyukai malam yang gelap.
Karena sang rembulan yang muncul di malam hari itu lah satu-satunya yang bersikap lembut padanya.
Walaupun ingin bersama sang rembulan, sang serigala tak bisa mencapainya, sekuat apapun ia menggapaikan tangan.
Lalu, sang serigala pun memulai perjalanan yang panjang.

Hari berganti hari..
Setiap pagi menjelang, sang serigala pun pergi bersembunyi.
Saat malam tiba, sekuat tenaga dia berusaha mengejar sang rembulan.
Meskipun demikian, tetap saja dia tak mampu mendekati sang rembulan.
Akhirnya, sang serigala pun jatuh tersungkur.

Lalu..
Dia pun berpikir.
Jangan-jangan sang rembulan akan kerepotan bila dirinya yang selalu dijahati datang mendekat..

Dengan penuh tekad, ia kembali berjalan tetapi kaki-kakinya sudah kelelahan.
Kakinya yang terluka di tengah jalan akibat dia bertubrukan dengan seseorang, yang lalu melemparinya dengan batu, terasa sakit.
Dari kedua belah mata sang serigala keluarlah linangan air mata.
Karena sang rembulan nun di atas sana tetap bersikap lembut seperti biasanya.
"Terima kasih," ucap sang serigala.
Di tengah kegelapan hari-hariku, hanya cahayamu sajalah yang selalu dan terus menerangi dan membimbing jalanku...