November 12, 2010

Its a New Day

Berat... Berat banget rasanya melepas seseorang yang dicintai demi orang lain, walaupun itu teman sendiri.
Tapi aku harus. Aku bukan seseorang yang bisa dengan egoisnya menghancurkan kebahagiaan teman sendiri. Apalagi si cowok itu sendiri memilih temanku.
Ya sudah, nggak mungkin aku perjuangkan cintaku kan..

Kalau kata temanku, ada 2 pilihan yang harus aku pilih salah satunya.
1. Memilih sahabat daripada cinta
--> Yah, berarti aku harus 'mundur'. Logikanya, aku bisa cerita tentang pacar ke sahabatku, tapi aku nggak mungkin bisa cerita tentang sahabatku ke pacar.
Sahabat yang selalu ada untuk aku, baik aku lagi nggak punya pacar ataupun pas punya.
Beda dengan pacar.
2. Teori ekstrim nih... Cinta itu nggak pernah salah. Cinta nggak bisa memilih, dia akan jatuh ke mana. Bisa aja aku mencintai seseorang yang juga disukai temanku sendiri, orang yang udah punya pacar, bahkan mungkin yang sudah beristri.
--> Karena prinsip ini, aku berhak untuk memperjuangkan cintaku. Aku berhak untuk terus maju dan bersaing dengan temanku sendiri, KARENA CINTA NGGAK PERNAH SALAH.

Semua pilihan ada di tanganku.
Kalau boleh milih, aku pengen 2 pilihan itu.
Cinta itu nggak pernah salah. Mana aku tahu kalau akhirnya aku suka sama tuh orang, mana aku tahu kalau tuh orang ternyata sukanya ama temanku sendiri, dan mana aku tahu kalau temanku pun menerima dia.
Tapi aku nggak mungkin memaksakan egoku untuk memiliki cowok itu. Terlalu banyak hati yang tersakiti. Yang jelas, aku menyakiti temanku sendiri, dan cowok itu pun belum tentu akan lebih bahagia sama aku, kalau sudah begitu aku sendiri yang akan sakit hati.
Hmmmm..... Not happy ending...
Jadi, aku juga ambil opsi pertama. Lebih memilih sahabat daripada cinta.
Biarlah, cukup aku saja yang merasakan sakit ini. Yang penting mereka bisa bahagia.

Pilihan yang aku ambil ini berat, berat banget.
Asli, sakit banget. Luka ini benar-benar dalam.
Benar yang kamu bilang, kawan. Walaupun nantinya aku sembuh dari luka ini. Tapi tetap saja meninggalkan bekas yang nggak akan pernah hilang.

Tapi aku harus, harus melakukan ini.
Dan aku harus bisa melakukan ini.
HARUS...!!!

SMS for Someone

Ini memang berat, tapi aku harus...
Demi orang-orang yang aku sayang. kamu, dan dia...

aku semakin kenal degan dia.
Semakin mengerti seperti apa dia.
Kalau kamu memang benar-benar serius sama dia, tolong jaga saudaraku baik-baik.
Jangan sampai dia menangis karena kamu.
Cukup aku yang menangis, air matanya terlalu berharga untuk diteteskan.

Please...

November 10, 2010

CINTA

Status t'baruku d facebook:
"Oke, Yum..
Sudah cukup kamu menyakiti mereka, sudah cukup kamu menyiksa dirimu sendiri..

Selesaikan masalahmu saat ini dengan mereka..

Ingat, ada seseorang d sana yg m'ingatmu sebagai cinta pertamanya,
merasa damai dengan m'ingatmu..
Dan mulai belajar u/ m'cintaimu lagi..

Begitupun seharusnya dirimu padanya..."



Sudah cukup...
AQ gk mw pusing lagi mikirin masalahku sama Mario dan Hajar.
Ini saatnya aQ m'coba keluar dari lubang ini.
Walau sulit, aQ harus bisa..


Aq akan m'coba u/ m'cintai Habli..
Seperti dulu lagi, dan mungkin akan lebih dalam lagi..

Ini mungkin akan sulit.
Karena dulu aq sendiri yg memutuskan u/ berhenti m'cintainya.
Bukan karena m'bencinya, tapi ini dengan sadar.


But I have to try it..
And I have to can do it..!!

Oktober 30, 2010

Seorang Eropa yang Membunuh Seorang Muslimah dengan Sadis di Depan Pengadilan!

Pernahkah anda mendengar berita memilukan yang menceritakan tentang pembunuhan sadis? Menusuk-nusuk korbannya berkali-kali hingga mati, dan itu dilakukan di depan umum, bahkan di depan keluarganya!!

Dari blog yang saya baca terdapatlah bahwa Marwa El-Sherbini, seorang Ibu satu putra berumur 3 tahun, masih bersuami, dan sedang mengandung 3 bulan, dibunuh secara sadis dan membabi-buta di dalam sebuah persidangan di pengadilan Jerman!!

Dr. Marwa El-Sherbini adalah seorang peneliti farmasi dan pemain handball asal Mesir yang berusia 32 tahun dan berparas sangat cantik. Ia hijrah dari Mesir ke Jerman pada tahun 2005 untuk mengikuti suaminya, Elvi Ali Okaz, yang meneruskan kuliahnya setelah mendapatkan beasiswa kandidat Doktor dari Lembaga Max Planck Institute for Molecular Cell Biology and Genetics.
Pada awalnya mereka berdua tinggal di Bremen, namun kemudian pindah ke Dresden pada tahun 2008. Setelah ia, anaknya, dan suaminya menetap di Dresden, kehidupan mereka tidaklah seperti yang mereka harapkan.
Dresden rupanya bukanlah kota yang ramah terhadap kaum muslim, terlebih lagi terhadap seorang Muslimah berkerudung. Mereka mendapatkan cobaan berupa seorang tetangga yang sangat membenci Islam. Orang itu, sebut saja Alex W.(namanya ditutupi oleh pengadilan Jerman dan kemudian oleh mereka disebut Alex W. untuk melindungi ‘manusia laknat’ tersebut) pria keturunan Jerman-Russia berusia 28 tahun yang setiap saat memberikan cacian dan makian “Teroris”, “Pembantai”, “B**ch”, dll. kepada Marwa El-Sherbini.
Bahkan cacian dan makian tersebut dilontarkan oleh ‘manusia laknat’ itu di tengah keramaian Kota Dresden, dan dilihat oleh orang-orang sekitarnya, namun tak ada satupun yang menolong Marwa. Bahkan beberapa kali pula sang ‘manusia laknat’ itu menarik-narik kerudung yang Marwa kenakan untuk mencoba melepaskannya di depan umum, dan Marwa pun membela dirinya.


Setelah kejadian itu, Marwa melaporkan ‘manusia laknat’ itu ke polisi, dan akhirnya diadili. Kemudian pengadilan memutuskan bahwa ‘manusia laknat’ itu bersalah atas tuduhan tindakan rasialis dan didenda sebesar 780 € (Euro). Namun, sang ‘manusia laknat’ itu ternyata tidak mau menerima hasil persidangan dan mengajukan banding. Banding di terima, dan dari persidangan itulah kejadian tragis ini dimulai (1/7/2009).
Saat itu, Marwa yang sedang bersaksi ditikam oleh ‘manusia laknat’ itu dari depan dan itu dilakukan berulang-ulang sebanyak 18 kali dalam waktu 30 detik! Yang lebih memilukan kejadian itu disaksikan langsung oleh anaknya yang baru berusia 3 tahun, dan saat suaminya hendak menolong, ia pun ikut ditikam dan ditembak oleh polisi penjaga persidangan. Sampai saat ini tidak diketahui apakah tembakan itu disengaja atau meleset yang seharusnya sasarannya adalah sang ‘manusia laknat’ tersebut. Marwa pun meninggal seketika setelah menerima 18 kali hujaman pisau tersebut. Sementara suaminya mengalami pendarahan kritis karena tertembak dan tertusuk pisau ‘manusia laknat’ itu di bagian paru-parunya.

Kejadian yang sungguh memilukan bagi umat muslim di seluruh dunia. Marwa El-Sherbini, seorang muslimah yang menjaga jilbabnya dari tangan kotor seorang ‘manusia laknat’ yang mengalami penyakit Islamofobia. Dan kini ia telah meninggal dalam keadaan Syahid. Syahid karena mati saat mempertahankan kehormatannya, syahid karena mati saat mempertahankan kandungannya, dan syahid karena mati saat mempertahankan imannya.

Semoga Allah benar-benar “menerbitkan matahari dari sebelah barat” agar kalian menyadari perbuatan kalian!

Dan kini setiap tanggal 1 Juli diperingati sebagai HARI JILBAB INTERNASIONAL. untuk mengenang kepergian beliau.

Oktober 20, 2010

Repost:
Dan kelak..
Disaat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu..
Dan kau tak tau jalan mana yg harus kau ambil,
jangan memilihnya dengan asal saja...
Tapi duduklah dan tunggulah sesaat..
Tariklah napas dalam" dengan penuh kepercayaan..
Seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini..
Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu..
Tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi..
Berdiamdirilah, tetap hening, dan dengarkan suara hatimu..
Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah..
Dan pergilah kemana hati membawamu..




*terima kasih karena telah begitu mengerti akna diriQ.. Dan maafkan aQ*